Monday, 8 August 2016

Definisi dan Contoh Paragraf Narasi, Deskripsi, Argumentasi, Eksposisi, Persuasi

Berikut ini kami akan membahas tentang pengertian serta contoh masing-masing paragraf , pada dasarnya paragraf adalah merupakan suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru.

Paragraf di sebut juga dengan Alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam beberapa ketukan atau spasi.

Kegunaan dari paragraf

Adapun guna atau manfaat paragraf itu adalah menandai pembukaan topik baru, atau mengembangkan lebih lanjut dari topik sebelumnya dan menambah hal-hal yang penting atau untuk merinci apa yang sudah diutarakan dalam paragraf yang sebelumnya.

Macam-macam paragraf

Paragraf bisa dibagi jika meninjau dari letak kalimat utama sebuah alenia yaitu sebagai berikut:

Paragraf Deduktif: paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragraf.

Paragraf Induktif: paragraf yang kalimat utamanya terletak di akhir kalimat paragraf.

Paragraf Campuran: paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal dan akhir paragraf.

Namun jika kita meninjaunya  berdasarkan tujuan maka akan terbagi lima yaitu:

1. Paragraf Narasi

Paragraf Narasi ialah paragraf yang bertujuan untuk menceritakan suatu peristiwa atau kejadian sehingga pembaca seolah-olah mengalami kejadian tersebut.

Contoh Paragraf Narasi

Tepat ketika tanggal 10 Maret, sekolahku libur selama sembilan hari dan akan berakhir pada tanggal 18 Maret. Aku dan seluruh keluargaku tidak menyia-nyiakan waktu ini untuk mengadakan liburan keluarga. Ketika itu aku memilih berlibur ke Pantai Parangtritis.

Pagi-pagi aku telah berbenah dan menyiapkan semua perbekalan yang nantinya diperlukan. Sepanjang perjalanan, aku iringi dengan nyanyian lagu riang. Betapa senangnya aku ketika sampai di pantai tersebut. Dengan hati suka ria, aku sambut Pantai Parangtritis dengan senyumku. Pantai Parangtritis, pantai nan elok yang menjadi favoritku. Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku mengajak kakakku untuk bermain air. Kuambil air dan aku ayunkan ke mukanya. Dengan canda tawa, kami saling berbalasan. Puas rasanya, terasa hilang semua kepenatan karena kesibukan tiap harinya. Di sana, aku dan seluruh keluargaku saling berfoto-foto untuk mengabadikan momen yang indah ini. Tak terasa waktu berjam-jam telah ku habiskan di sana. Hari pun mulai sore menandakan perpisahan dan kembali pulang. Tak rela rasanya
kebahagiaan ini akhirnya selesai. Dalam benakku, aku kan kembali esok.

2. Paragraf Deskripsi

Paragraf Deskripsi  adalah merupakan paragraf yang bertujuan menggambarkan sebuah objek nyata agar pembaca seolah-olah melihat sendiri objek yang di gambarkan itu.

Contoh  Paragraf Deskripsi:

Masih melekat di mataku, pemandangan indah nan elok pantai
Parang Tritis. Gelombang ombak bergulung-gulung datang silih berganti menyambutku serasa ingin mengajak bermain. Air yang jernih dan pasir putih lembut yang menghampar luas tanpa ada tumbuh-tumbuhan atau karang yang menghalangi membuatku ingin kembali lagi. Di sebelah kanan-kiri, aku bisa memandang air laut sejauh mata memandang, pandai dengan bukit berbatu, pesisir serta pemandangan bukit kapur di sebelah utara pantai. Kurasakan dingin membasuh kakiku karena ombah menghempas kakiku dan
terasa asin air itu ketika bibirku terkena percikan.

Sepanjang aku berjalan, hampir pinggiran pantai dipenuhi oleh pengunjung wisatawan. Kulihat ada yang berlari berkejar-kejaran di bibir pantai, bermain bola, bermain dengan air, berfoto-foto dengan latar sekitar pantai. Tapi yang paling membuatku tertarik, kulihat ada beberapa turis manca negara yang menikmati keindahan pantai ini dengan naik delman. Seperti apa yang aku lihat, pantai ini memang sangat ramai pengunjung. Tak pernah sunyi pantai Parang Tritis.

3. Paragraf Eksposisi

Paragraf Eksposisi adalah paragraf yang bertujuan memaparkan sebuah sejumlah informasi atau pengetahuan agar pambaca dapat menambah informasi atau pengetahuan.

Contoh Paragraf Eksposisi:

Parangtritis adalah nama desa di Kecamatan Kretek, Bantul, Daerah
Istimewa Yogyakarta. Di desa ini terdapat pantai Samudera Hindia yang terletak kurang lebih 25 km sebelah selatan Kota Yogyakarta.
Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal di Yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup, Krakal dan Glagah.

Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung-gunung pasir yang tinggi di sekitar pantai, gunung pasir tersebut biasa disebut gumuk. Objek wisata ini sudah dikelola oleh pihak pemda Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun pasar yang menjajakan souvenir khas Parangtritis.

Selain itu ada pemandian yang disebut parang wedang konon air di pemandian dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit diantaranya penyakit kulit, air dari pemandian tersebut mengandung belerang yang berasal dari pegunungan di lokasi tersebut. Air panas dari Parang Wedang dialirkan ke pantai Parangtritis untuk bilas setelah bermain pasir dan juga mengairi kolam kecil bermain anak-anak. Di Parangtritis ada juga ATV, kereta kuda dan kuda yang dapat disewa untuk menyusuri pantai dari timur ke barat. selain itu Puga parangtritis sebagai tempat untuk olahraga udara/aeromodelling

4. Paragraf Argumentasi

Paragraf Argumentasi adalah paragraf yang bertujuan untuk mengemukakan contoh, asalan, bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan dengan tujuan meyakinkan pembaca sehingga pembaca membenarkan sikap, pernyataan, dan keyakinan kita.

Contoh Paragraf Argumentasi:

Pantai Parangtritis memang memiki keindahan eksotis yang membuat wisatawan ramai berkunjung, tetapi juga sering menelan korban. Yang disayangkan, sebagian masyarakat Indonesia masih saja menganggap peristiwa tersebut berkaitan dengan hal-hal mistis, yakni dikarenakan Ratu Pantai Selatan meminta tumbal. Padahal, ada penjelasan ilmiah di balik musibah tersebut. Para praktisi ilmu kebumian menegaskan bahwa penyebab utama hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip current. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik tidak hanya kuat, tetapi juga mematikan.

Jadi, banyaknya korban tenggelam tidak ada kaitannya sama sekali dengan anggapan para masyarakat. Ali Susanto, Komandan SAR Pantai Parangtritis, juga menambahkan bahwa di sepanjang Pantai Parangtritis juga banyak terdapat palung (pusaran air) yang tempatnya selalu berpindah-pindah dan sulit diprediksi. Kondisi inilah yang sering banyak menimbulkan korban mati tenggelam.

5. Paragraf Persuasi

Paragraf Persuasiadalah paragraf  yang bertujuan untuk meyakinkan dan membujuk seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki penulis.

Contoh Paragraf Persuasi:

Indonesia terkenal sebagai negara agragris yaitu negara yang masyarakatnya pada umumnya bekerja di bidang pertanian. Karena itu banyak sekali hasil dari pertanian yang terbesar ialah padi . Namun tanpa kita sadari karena tingginya ketergantungan terhadap padi sendiri membuat pertanian kita hanya bergantung pada sektor tersebut. Sedangkan karena tingginya jumlah konsumen nasi membuat kebutuhan akan padi semakin meningkat hingga pada titik tertentu Indonesia harus impor beras.

Ini ialah hal yang sangat riskan karena negara agragris harus mengimpor beras. Hal ini tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang bergantung pada nasi. Padahal masih banyak makanan yang bisa menggantikan padi. Oleh karena itu beralih lah ke makanan lain pengganti nasi seperti jagung dan ubi-ubian yang tidak hanya mudah ditemukan dan tentunya lebih ekonomis dan dapat menumbuhkan sektor pertanian yang lainnya.

Thursday, 19 May 2016

Materi bhs jawa klz 5 sd sem 2

Materi Bahasa Jawa Kelas 5 SD Semester 2

1. Kerata Basa
Kerata basa; Kerata basa yaiku negesi tembung saka wandane( mengartikan kata dilihat dari suku katanya).
Contone

    Gelas; yen tugel ara bisa dilas.
    Piring = sepine yen miring.
    Tebu = antebing kalbu.
    Cengkir = kencenging pikir.
    Gedhang = digeged bubar (lebar) madhang.
    Guru; digugu lan ditiru.
    Tandur; ditata kanti mundhur
    Wanita; wani ing tata.

2. Jenising Layang 
    a. Jenising layang;
Layang biwara (surat kabar, surat laporan)
Layang iber-iber (surat kiriman)
Layang dhawuh (surat perintah)
Layang lelayu (surat kematian)
Layang kitir (surat singkat / cekak aos)
Layang ulem (surat undangan)
  b. Perangane layang
Adangiyah /adawiyah / salam taklim
Papan lan titi mangsa
Salam pambuka
Pambuka layang
Surasa layang
Panutup layang
PeprenahTapak asma
Asma cetha
    Conto panutup layang/wasana basa;

    Wasana cekap semanten menawi wonten mkelepatan atur kuala nyuwun pangapunten.
    Cukup semene dhisik layangku, aku nunggu layang balesanmu. Matur nuwun.

3. Macapat

    Macapat; artine maca papat-papat. Macapat ana 11:
Mijil: tresna marang pepadha, prihatin, pituthur
Kinanthi: seneng, tresna
Sinom: ethes
Asmaradana: susah, seneng
Dhandhanggula: luwes
Gambuh: sumanak, sumadulur
Maskumambang: nelangsa
Durma: nesu, mangkel
Pangkur: kereng, nepsu
Megatruh: susah, prihatin, ugetun
Pocung: gregetan, kendho 

Guru Gatra, Guru Wilangan lan Guru lagu tembang-tembang macapat
Maskumambang : 12i, 6a, 8i, 8a
Pucung: 12u, 6a, 8i, 12a.Gambuh: 7u, 10u, 12i, 8u, 8o
Megatruh: 12u, 8i, 8u, 8i, 8o
Mijil: 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u
Kinanthi: 8u, 8i, 8a, 8i
Durma: 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i.
Pangkur: 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i
Asmaradana: 8i, 8a, 8e, 8a, 7a,8u, 8a
Sinom: 8a, 8i,8a, 8i, 7i, 8u, 7a, 8i, 12a
Dhandanggula: 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a

4. Paribasan

    Paribasan utawa peribahasa bahasa jawa:

Anak molah bapa kepradhah = wong tuwa melu repot amarga tumindake anake
Polahe anteng kitiran; bocah akeh polahe.
Becik ketitik ala ketara = sing becik bakal tinemu, sing ala bakale ketara
Bathok bolu isi madu = dianggep wong lumrah nanging sugih kepinteran
Sadumuk bathuk sanyari bumi = pasulayan dilabuhi toh pati
Kejugrukan gunung madu = nemu kanugrahan.

5. Arane Turunan, Arane Anak Wong
Kendahana-kendhani : anak 2 lanang, wadon
Kendhini, kendhaha : anak 2 wadon, lanang
Ontang-anting : anak 1 lanang
Unting-unting : anak 1 wadon
Uger-uger lawang : anak 2 lanang
Kembang sepasang : anak 2 wadon
Cukil dulit : anak 3 lanang
Gotong mayit : anak 3 wadon
Saramba : anak 4 lanang
Sarampi : anak 4 wadon
Pandhawa : anak 5 lanang
Pancagati : anak 5 wadon

6. Ngudal ukara

    Comil                     adus                      kali

    Jejer                      wasesa                 lesan

    Wily                       linggih                   jejer      bolong.

    Jejer                      wasesa                 lesan

7. Artine tembung 

Dhuwur kenchur; cendhek banget.
Nglemah bengkah; nela-nela/nyela-nyela.
Gemi, nestiti lan ngati-ati.Welas asih.

--- 

Sumber: damaruta.blogspot.com dari Edi Purnomo

Thursday, 16 January 2014

PENJUAL SONGONG

Kupingmu tidak kau gunakan untuk mendengar, ya?
Aku memesan lalapanmu dan kau bilang “ya.”
Temanku memesan pangsit di penjual sebelah.
Kau memandang ke arah temanku sekilas sembari gorenggoreng.
Lantas kenapa kau memastikan lagi pada temanku saat aku mengambil segelas teh di meja lain?
Tentu saja temanku jawab “tidak pesan
Kerana yang kau tawari dikiranya dia.
Pangsit diantar di meja temanku.
Aku menunggu lalapanku hadir di mejaku.
Sampai pangsit temanku tinggal separuh,
Aku masih menunggu lalapanku.
Pangsit temanku tinggal sedikit
Aku menengok ke arahmu yang melayani orang yang pesan setelahku.
Kesabaranku habis.
Aku menghampirimu.
Emosiku sampai pada puncaknya ketika kau bilang.
“tadi katanya nggak jadi?” dengan nada keras.
“yang nggak jadi kan temenku!” kataku dengan nada yang keras pula.
Ada penjual pangsit di sebelahnya.
Dan aku pun memesan pangsit sebelah dengan nada keras.
Biar dia dengar dan cemburu.
Dan merasa bersalah.
Meski aku ingin lalapan.
Rasakan!


Malang, 27 April 2011

PINTAKU PADA IBU

Ibu, hampiri aku
Ibu, nasehati aku
Ibu, tenangkanlah aku
Ibu, sayangi aku
Ibu, peluklah aku
Ibu, sadarkan aku
Ibu, tolonglah aku
Ibu, bimbinglah aku
Ibu,  cintai aku
Ibu,  kembalikan aku

Malang, 27 April 2011

KETIKA LUKA KARENA LAKU

Betapa sakitnya hati ini...
Luka ini menyayat hati bagai disayat sembilu.
Sebilah pedang telah menusuk jantung.
Pedih perih tiada tara kurasa.
Menyibak darah yang membuat kulitku keruh.
Dan akhirnya meleleh.
Hanya terus mengucur mengalir .
Hanya mengikuti kehendak orang lain.
Tanpa paham kehendak diri.
Berharga atau tidak ya diriku ini?
Aku hanya diam merenungi  diri,
Akan apa yang telah kuperbuat.
Selalu menimbulkan masalah.
Dan akan membuatku berkata.
“Seharusnya aku tadi tidak begitu”
Hmm! padahal sebenarnya...
Kalau aku begitu pun.
Juga akan jadi begini.
Semuanya sama saja.
Apa yang kulakukan selalu salah.
Apakah sebaiknya aku diam saja?


Malang, 27 April 2011

Coppelia

Coppelia adalah kisah yang berasal dari Polandia. Setiap hari Coppelia selalu membaca buku di balkon rumah Pak Tua Coperius. Suatu ketika, Franz berhasil menyusup masuk ke rumah Pak Tua. Tetapi ketahuan dan diberi obat tidur oleh Coperius tua. Swanilda tidak suka melihat Franz, (kekasihnya) asyik memikirkan Coppelia. Dia menyusul Franz dengan menyusup masuk ke rumah Pak Tua pula. Sesampainya di rumah Pak Tua, dia terkejut. Ternyata Coppelia adalah boneka buatan Coperius. Mendadak Coperius pulang. Swanilda lantas menyamar menjadi Coppelia. Coperius amat senang melihat Coppelia bisa menari. Pikirnya, boneka ciptaannya itu bisa bergerak. Saat Coperius pergi, Swanilda lalu menyadarkan Franz dan mereka berdua segera kabur dari situ. Akhirnya Swanilda dan Franz menikah.

Sunday, 24 March 2013

CERPEN: Katakan Nggak Kalo Bener-Bener Nggak Suka


Katakan Nggak Kalo Bener-Bener Nggak Suka


Oleh: Dina Kusuma W./Dilara Kohana

               Siang itu cuaca panas banget. Teriakan Vivcha memecahkan keheningan di siang yang begitu terik. Vivcha baru aja pulang sekolah dan berteriak-teriak di depan rumah minta dibukakan pintu.
            “Roniii! Bukain pintu, dong... cepetan! Mbakmu keburu garing nih.. panas banget! Aduh lama banget, sih. Ngapain aja tu anak!” Teriak Vivcha di depan rumah
            Tiba-tiba Pak Har keluar dari rumah. Dengan wajah yang penuh kejengkelan Pak Har menegur Vivcha.
            “Heh, bisa diam tidak! Panas-panas gini teriak-teriak! Sekarang tuh waktunya orang istirahat!” Tegur Pak Har yang sedang pulang ke rumah buat tidur siang karena jam kantornya lagi istirahat.
            “Maafin Vivcha Pak Har! Habis nggak ada yang bukain pintu, sih.” Kata Vivcha membela diri.
            “Ya tapi jangan teriak-teriak gitu dong. Di sini tuh perumahan. Pak Har jadi nggak bisa tidur siang, nih!” Protes Pak Har dengan wajah aneh. Gimana nggak aneh coba? Wajah Pak Har tu kelihatan kusut karena nggak bisa tidur. Tapi ada nuansa marahnya juga, loh.
            “Iya, Pak Har, maaf. Ni.. Vivcha buka pintu sendiri, nih!” Jawab Vivcha dengan hati sedikit dongkol tapi dengan muka yang ramah. Ramaaah sekaliii. Vivcha pun membuka pintu gerbang rumahnya dan cepat-cepat memasukkan sepeda motornya ke teras rumah. “Cepet-cepet masuk, ah.. daripada denger Pak Har nyap-nyap tambah nggak jelas!” Gumam Vivcha dalam hati.
****
            “BRUK!” Vivcha melemparkan tasnya di atas sofa sambil uring-uringan gara-gara nggak ada yang bukain pintu buat dia. Saat itu, Roni lagi dengerin musik pake headset keras banget. Jadi percuma aja si Vivcha capek-capek ngomelin adiknya. Tapi Vivcha masih aja tetep ngomel karena dia nggak tahu kalau Roni lagi dengerin musik pake headset keraaas banget.
            Melihat kakaknya yang ngomong seperti tak bersuara, membuat Roni penasaran tentang apa yang diomongin kakaknya ke dia, sehingga dia rela melepaskan headset dari telinganya yang lagi main lagu kesukaannya, yaitu lagu Heal The World-nya Michael Jackson. Emang, sih.. Roni penggemarnya Michael Jackson. Meskipun udah meninggal, karya-karyanya akan tetap hidup di hati penggemarnya. Kayak si Roni, tuh yang tiap hari kudu ngedengerin lagu-lagu Jacko.
            “Udah ah! Capek!” itulah yang hanya didengar Roni dari mulut Vivcha yang tadi nampak bergerak mengeluarkan banyak kata, tapi nggak ada suaranya sehingga membuat Roni jadi penasaran. Tiba-tiba Roni jadi teringat sesuatu.
            “Oiya, Mbak! Tadi Mama pesen kalo mau maem, suruh angetin dulu rawon yang Mama beli tadi.” Kata Roni.
            “Kamu udah maem?” Tanya Vivcha.
“Belum.” Jawab Roni sambil memasang headset ke telinganya.
“Lho, lho, lho.. kok enak?! Kamu sengaja belum maem biar aku yang angetin rawonnya, ya! Curang kamu!” Kata Vivcha mulai marah lagi.
Roni tidak mendengar apa yang dikatakan Vivcha, cuma mendengar suara lagu kesukaannya, apa lagi kalo bukan lagunya Michael Jackson dari headset yang dicolokin ke MP3 barunya.
“Kok diem aja, sih! Mbak dari tadi marah-marah tapi nggak ada respon sama sekali. Nyebelin banget nih anak!” Kata Vivcha sambil menghampiri Roni yang sedang duduk di ruang TV.
“Ooo.. Pantesan dari tadi nggak ada respon pas mbak marah-marah! Jadi begini, ya ternyata.” Kata Vivcha sambil melepaskan headset yang menempel di kuping Roni.
“Eh, eh! Ada apa ini?! Kurang ajar banget sih. Nggak sopan!” Protes Roni kepada Vivcha.
“Kamu yang nggak sopan! Mbak tadi marah-marah tapi kamu nggak dengerin, lebih nggak sopan mana coba?”
“Lho tadi marah-marah, to?” Tanya Roni dengan wajah yang polos dan tidak berdosa.
“Ya ampuuun!! Percuma dong Mbak tadi marah-marah! Mbak tadi tuh manggil-manggil kamu buat bukain pintu, tapi nggak kamu bukain. Mbak jadi teriak-teriak terus buat manggil kamu sampai-sampai Pak Har keluar dari rumahnya buat marah-marahin Mbak. Akhirnya terpaksa Mbak buka pintu sendiri. Udah panasnya kayak di padang pasir, dimarahin tetangga pula. E.. ternyata kamu malah enak-enakan dengerin headset kayak gini! Awas kamu, ya!” Kata Vivcha yang ngomong tanpa jeda titik koma alias ngomel.
“Lho, aku kan nggak tahu. Nggak sengaja gitu loh! Lagian tumben banget, sih minta dibukain pintu segala?!” seru Roni membela diri.
“Halah udah, alesan aja! Angetin rawon sana, gih.. Mbak capek!
“Lho, kok aku yang disuruh angetin, sih?! Aku kan sengaja belum makan demi nungguin Mbak!” Kata Roni. “Tepatnya nungguin Mbak yang angetin sayur, hehehehehe!” Kata Roni lagi dalam hati.
“Halah, kamu nungguin Mbak biar kamu nggak angetin rawon, ya kan??!”
“Lho, kok tahu? Hehehe!” Roni nggak bisa nahan tawa kalo udah ketahuan belangnya.
“Heh, kamu itu udah gede! Udah kelas satu SMP, bantu-bantu dikit gitu aja kok nggak mau, sih! Mbak tu capek baru pulang sekolah. Harusnya kamu yang pulang duluan tu bantuin Mbak, dong! Atau kalo nggak mau Mbak bilangin Mama kalau kamu kemarin nggak les tapi malah ke rental PS! Nggak mau, kan?! Kalo nggak mau rahasiamu ketahuan mama, cepetan angetin rawonnya! Omel Vivcha.
“Bukan kakak yang biasanya!” Kata Roni sambil beranjak dar tempat duduknya untuk pergi ke dapur buat angetin rawon.
****
Saat nunggu rawon yang diangetin mendidih Roni jadi teringat masa lalunya bersama kakaknya sebelum masuk SMA. Dulu kakaknya nggak pernah marah-marah kayak gitu. Apalagi ngancem mau ngadu-ngaduin kesalahannya ke Mama. Mereka tuh kompak banget. Tapi sejak masuk ke SMA tahun ini, kakaknya mulai berubah dan suka ngomel-ngomel yang nggak jelas.
“Ehm.. apa yang terjadi, yaw sama Mbak?!” Tiba-tiba Roni jadi teringat sesuatu. Dia mengambil stapler kesayangannya dan meniupnya tiga kali. Tatkala muncullah sosok yang besar banget tapi, tampangnya imut dan bersayap.
“Ohhohohohohohohohohoho... Tuanku, ada yang bisa aqyu bantu? Tumben banget, tuanku panggil-panggil aqyu?! Sudah empat bulan kita tidak ketemu, kangen niyh?!” Kata sosok yang besar banget, tapi tampangnya imut dan bersayap sambil memeluk-meluk Roni dengan genitnya.
“Ih.. jijay deh gue sama lo. Lo jangan macem-macem ya, ma gue ntar gue kurung lo di dalam stapler selamanya, mau lo???” Kata Roni yang risih dengan tingkah laku bencong si sosok yang besar banget, tapi tampangnya imut dan bersayap.
“Yee.. aqyu ya nggak mau-lah..nggak enak hidup di dalem stapler. Soalnya jepretin kertas terus sih. Aqyu kan kaget tiap ada yang jepretin kertas! Tuanku jangan jahat-jahat, dong ma aqyu..!” Sosok yang besar banget, tapi tampangnya imut dan bersayap itu memelas dengan manjanya ke Roni.
“Ya udah.. aqyu, eh aku minta tolong sama kamu selidikin apa yang udah terjadi sama Mbak Vivcha. Soalnya sejak masuk SMA, Mbak Vivcha tuh suka marah-marah nggak jelas sama aqyu eh, aku. Jadi aku minta tolong sama kamu, tolong selidikin apa yang udah bikin dia suka ngomel kayak gitu. Padahal dulu kita tuh kompak banget.” Kata Roni sambil membenarkan lidahnya yang nggak mau ketularan bencong.
“Okey.. dehhh, tuanku!! Apa sih yang enggak buat tuanku yang paling cakep sedunia!” Kata sosok yang besar banget tapi tampangnya imut dan bersayap.
“Baguslah..!” Kata Roni. Tiba-tiba Roni mencium bau gosong dan ternyata bau gosong itu bersumber dari rawon yang diangetinnya.
“Waaa... gimana ini??? Mama pasti marah-marah! Roni kebingungan.
“Tenang aja tuanku.. aku sulap jadi sediakala, deh.” Mulut sosok yang besar banget tapi tampangnya imut dan bersayap itu nampak komat-kamit. Dan rawon di atas kompor berubah menjadi sapi.
“Mooooo....” Seru sapi itu.
“Tidaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!”  Seru Roni yang kaget, bingung, dan jengkel sama sosok yang besar banget, tapi tampangnya imut dan bersayap.
“Roniiii, diem! Mbak mau tidur!” Bentak Vivcha dari kamar.
****
            Keesokan harinya, sosok yang besar banget, tapi tampangnya imut dan bersayap itu.. Eh, sebentar-sebentar, pembaca! Rasanya kepanjangan pake nama sosok yang besar banget, tapi tampangnya imut dan bersayap. Enaknya namanya diganti ‘Tante Jin’ aja, okay! Nah kita ulang lagi (sorry ya pembaca kalo jadi agak ribet, hehehehe!). Keesokan harinya, Tante Jin pergi membuntuti ke mana pun Vivcha pergi buat nyelidikin apa yang bikin Vivcha suka marah-marah nggak jelas. Bahkan Tante Jin juga ikut-ikutan sekolah buat nyelidikin si Vivcha, meskipun nyamar jadi belalang.
            “Vivcha, kamu sekarang lagi sibuk, nggak??” Tanya Sonia kepada Vivcha yang jelas-jelas lagi makan bakso di kantin pas istirahat, tentunya.
            “O.. enggak, ada apa Viv?” Vivcha balik tanya dengan ramah. Tapi batinnya, “Huh, ganggu orang makan aja!”
            “Aku mau ikutan kasting di lima tempat gitu deh.. Jadi hari ini aku tu sibuk banget, dan aku mau minta tolong sama kamu. Tolong buatin surat ijin sekarang dong Viv, ya..nanti biar aku yang kasihkan ke guru BP, ya ya..!” Kata Sonia memelas.
            “O iya.. iya..! Sekarang nih, aku bikinin? Mana kertasnya?” Kata Vivcha.
            “Aduh, kertasnya ada di dalem tas dan tasku di kelas.. aku minta kertasmu aja, deh.. soalnya aku capek jalan bolak-balik ke kelas dari tadi.” Kata Sonia.
            “Iya deh aku ambilin dulu, ya.” Kata Vivcha sambil berlari ke kelas meninggalkan semangkuk penuh bakso yang sedang menjadi santapannya buat ngambil kertas yang ada di dalam tasnya. Tapi batinnya, “Huh, nggak modal banget sih tu anak. Nglunjak!”
            “Kalo gini kan enak.. gue bisa santai sambil makan bakso sementara Vivcha yang repot. Hehehe! Bang pesen baksonya satu mangkuk!” Kata Sonia pas Vivcha ngambil kertas.
            Tak lama kemudian Vivcha muncul sambil membawa kertas dan bolpen.
            “Aduuh makasih Vivcha udah diambilin, aku jadi ngrepotin kamu, nih!” Kata Sonia dengan tampang sok imut sambil makan bakso yang ia pesen sendiri.
            “O.. nggak pa pa, kok sesama teman kan harus saling membantu.” Kata Vivcha dengan ramah. Tapi batinnya nggak ramah.
            “Iya.. kalo ada Vivcha jadi tertolong nih, makasih ya Vivcha..sekarang tolong tulisin, ya!” Kata Sonia tetep sambil makan bakso dengan lahapnya.
            “Baik-baik aku tuliskan.” Kata Vivcha sambil membuka bolpen buat menuliskan surat ijinnya Sonia. Saat itu Sonia sedang makan bakso yang masih panas, sementara baksonya Vivcha sudah dingin. Batin Vivcha sebel ngeliat tingkah Sonia yang seenaknya sendiri. Setelah selesai menuliskan surat ijin, Sonia juga sudah selesai makannya dan langsung pergi ke ruang BP setelah berterima kasih kepada Vivcha dengan muka sok imut. Saat Vivcha mau melanjutkan kembali makan baksonya, tiba-tiba bel berbunyi menandakan jam istirahat udah selesai. Vivcha pun berteriak-teriak dalam hati menyumpahi Sonia yang menggangu waktu makan baksonya.
            Dari kejauhan, Tante Jin yang lagi jadi belalang manggut-manggut ngeliat kejadian itu. “Pantesan suka marah-marah nggak jelas,” Pikir Tante Jin.
            TENGTENG!! Waktu pulang sekolah, Vivcha dimintai tolong sama teman-temannya untuk menggantikan mereka piket. Di sekolah Vivcha, anak yang piket untuk hari berikutnya dilakukan sehabis pulang sekolah. Dan seperti biasa Vivcha menyanggupi permintaan teman-temannya dengan muka yang ramah tapi hati nggak ramah.
            Dari kejauhan, Tante Jin yang lagi jadi belalang manggut-manggut sangat cepat di antara dedaunan karena memahami apa yang dipikirkan Vivcha. Tiba-tiba Tante Jin punya ide. Dia melompat di atas kepala Vivcha saat Vivcha sedang menyapu lantai kelas. Saat itu Vivcha merasa ada yang aneh di kepalanya dan cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya karena dia merinding.
****
            “Hallo, Vivcha! Kamu lagi ngapain nih??” Tanya Ninda
            “Oh, aku lagi bikin pe-er Nin..!” Jawab Vivcha.
            “Wah, kebetulan banget! Aku belum bikin pe-er nih.. soalnya aku lagi di rumah nenek di luar kota gitu, deh.. aku boleh minta tolong ma kamu, nggak??”
            “Oo.. tentu saja boleh! Mau minta tolong apa?”
            “Tolong kamu besok berangkat lebih pagi, kalo boleh aku mau nyalin pe-er kamu.. ya!”
            “Iya silakan aja, aku seneng kok bantuin kamu!” Kata Vivcha dengan ramah. Tapi dalam hati dia berkata, “Dasar pemalas!” Tiba-tiba belalang dikepalanya membesar. Vivcha memegang kepalanya. Dia merasakan ada sesuatu di kepalanya. Tiba-tiba dia mendengar sesuatu.
            “Hohohohohohoho!!! Kalo kamu bertingkah seperti itu terus aqyu akan tinggal selamanya di kepalamu dan akan terus membesar setiap kamu mengiyakan permintaan yang nggak pernah kamu sukai.” Kata si belalang alias Tante Jin.
            “Heii, siapa lo?? Pergi nggak dari kepala gue.., Pergi! Hush Hush!” Kata Vivcha yang mulai marah sambil mengusir belalang yang ada di kepalanya. Saking marahnya, Vivcha nggak kaget kalo ada belalang yang bisa ngomong.
            “Nggak bisa! Sampai kamu bisa menolak hal yang bener-bener nggak kamu inginkan sama temen-temenmu! Dan aqyu akan terus membesar setiap kamu mengiyakan sesuatu yang nggak kamu sukai, paham?!” Kata si belalang alias Tante Jin.
            “Halo, halo, Vivcha, kenapa kamu teriak-teriak?” Tanya Ninda. Saat itu Vivcha lagi berantem dengan belalang yang ada di kepalanya. Dia mengusir paksa belalang yang ada di kepalanya sekuat tenaga tapi tetep nggak bisa.
****
            Keesokan harinya Vivcha datang lebih pagi karena telpon Ninda semalem. Ninda minta supaya Vivcha ngasih contekan pe-er ke dia. Dan seperti biasa Vivcha mengiyakan permintaan temannya. Dengan wajah yang ramah dan hati yang dongkol banget, tentunya.
“Vivcha, akhirnya kamu datang juga. Aku juga baru datang, kok. Semalem kenapa sih kamu putusin telponku secara tiba-tiba?” Tanya Ninda
“Nggak papa, kok hehe!” Kata Vivcha sambil memegangi kepalanya buat menutupi belalang yang semakin membesar di kepalanya.
            “Oh, ya mana pe-ernya?” Tanya Ninda tanpa basa-basi.
            “Ini..!” Jawab Vivcha sambil menyerahkan buku pe-ernya kepada Ninda.
            “Aku pinjem bolpennya sekaliyan juga, dong..Viv?” Pinta Ninda kepada Vivcha.
            “Iya, sebentar kuambilin!” Kata Vivcha dengan ramah tapi dalam hati dia ngomel. Vivcha mengambil bolpen dari dalam tasnya Tiba-tiba belalang di kepalanya membesar lebih berat dari yang sebelumya. Vivcha langsung lari ke toilet supaya belalang di kepalanya nggak ketahuan Ninda.
            “Vivcha, Vivcha mau ke mana? Mana bolpennya??” Tanya Ninda. Tapi pertanyaan Ninda terpaksa nggak digubris Vivcha, karena Vivcha takut ketahuan ada belalang besar yang tinggal di kepalanya.
            “Hohohohohoho! Kamu melakukannya lagi Vivcha sayang.. dan aqyu akan terus membesar. Aqyu nggak akan pergi sebelum kamu menolak hal yang sebenarnya nggak kamu suka.” Kata si belalang alias Tante Jin.
            “Pergi nggak lo dari kepala gue!”
“O.. Tidak bisa!” Kata si belalang itu sambil mengacak-ngacak rambut Vivcha.
“Aduh, ampun.. Jangan acak-acak rambutku. Kumohon pergilah dari kepalaku!” Pinta Vivcha. Tapi tetep nggak berhasil.
Vivcha keluar dari toilet menuju kelas dengan rambut agak berantakan. Pas Vivcha udah nyampek kelas, tiba-tiba Rike menarik lengan Vivcha minta dianterin ke toilet. Saat itu kelas sudah ramai karena banyak yang udah datang. Sementara itu, Vivcha lagi kalap karena penderitaannya dihinggapi belalang di kepalanya.
“Lepasin nggak, gue udah capek nganterin lo ke toilet. Lo tu udah gede, nggak usah minta dianterin lagi buat ke toilet! Kalian juga jangan lagi-lagi minta tolong sama gue selama lo lo semua masih mampu ngelakuin pekerjaan itu! Emangnya gue ini pembantu kalian semua, apa!” Kata Vivcha
“Habis elo-nya sendiri juga mau, sih!” Tukas Hendra
“Iya. Selama ini gue terpaksa mau ngelakuin itu, biar gue punya teman deket di kelas ini. Sejak gue masuk di sekolah ini, nggak ada yang gue kenal diantara kalian semua. Makannya gue nglakuin itu biar gue bisa berteman dengan kalian semua. Tapi ternyata cara gue salah! Lo, lo semua malah manfaatin gue sebagai babu. Bener-bener jahat!” Emosi Vivcha yang terpendam terhadap teman-temannya sangat meledak-ledak. Saat itu juga belalang alias Tante Jin yang tinggal di kepala Vivcha menghilang.
“ Lho?!” Kata Vivcha sambil memegangi kepalanya.
Sejak saat itu Vivcha sadar dan tidak lagi menyanggupi permintaan temannya yang keterlaluan sama dia, kecuali teman-teman yang bener-bener membutuhkan bantuannya. Dia jadi berani menolak permintaan temannya yang keterluan karena takut belalang itu datang lagi di kepalanya dan jadi terus membesar. Setelah kejadian itu, teman-temannya meminta maaf kepada Vivcha dan  tidak lagi berani menyuruh-nyuruh Vivcha seenaknya. Mereka jadi lebih menghargai Vivcha.  Selain itu Vivcha jadi kembali menjadi Vivcha yang dulu lagi di rumah. Vivcha nggak lagi suka marah-marahin Roni. Mereka jadi akur dan kompak seperti sediakala.
“Kok bisa balik seperti semula, sih?!” Tanya Roni kepada Tante Jin
“Ya iyalah, Tuanku.. masa ya iya dong! Aqyu, gitu loh! Kata Tante Jin.
“Iya, tapi gimana ceritanya?” Roni mulai sedikit jengkel.
“Nggak perlu tahu, deh ini kan masalah pribadi Mbaknya Tuanku, yang penting Mbaknya Tuanku udah kembali seperti semula. Jadi Tuanku nggak perlu tahu, hanya aqyu ma Mbaknya Tuanku aja yang boleh tahu, ganteng!” Kata Tante Jin sambil mencolek dagu Roni.
“Hu dasar, pelit! Udah gitu colek-colek juga!” Kata Roni sebel.
****